Teori Feminis Sosialis

Teori feminis muncul dari gerakan wages for housework pada permulaan era 1970-an di Inggris dan Italia. Feminisme sosialis muncul sebagai kritik terhadap feminisme marxis.

Teori feminis sosialis ini menekankan pada penindasan gender dan kelas.Dalam hal ini Marxis menekankan pada masalah kelas sebagai penyebab perbedaan fungsi dan status perempuan. Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh.

Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan.

Dalam Feminisme sosialis ini juga tidak hanya menfokuskan gender yang menjelaskan posisi perempuan di masyarakat, tetapi juga mencoba untuk menggabungkan analisis kelas dan kondisi ekonomi. Aliran ini sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan. Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminis radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan itu. Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung, (Jurnal Perempuan No.48: 45).

Zillah Eisentein dan Heidi Hartmann berpendapat bahwa perempuan tidak dapat meraih keadilan sosial tanpa membubarkan patriarki dan kapitalisme. Feminis sosialis menekankan pada aspek gender dan ekonomis dalam penindasan atas kaum perempuan.

Mereka berpendapat bahwa perempuan dapat dilihat sebagai penghuni kelas ekonomi dalam pandangan Marx dan “kelas seks”, sebagaimana disebut oleh Shulamith Firestone. Artinya, perempuan menampilkan pelayanan berharga bagi kapitalisme baik sebagai pekerja maupun istri yang tidak menerima upah atas kerja domestik mereka, (Ben Agger:225).

Dalam pandangan Zoonen (1991) dan Stevees, perspektif feminis sosialis ini dinilai sebagai sebuah pendekatan terbaik untuk melihat persoalan perempuan di media massa karena menawarkan kerangka pemikiran yang lebih luas dibanding perspektif lainnya.

Sementara menurut Zoonen dan Stevees, feminis sosialis memandang media sebagai instrumen utama dalam menyampaikan stereotipe, patriarkal dan nilai-nilai hegemoni mengenai perempuan dan feminitas. Media berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial.

Menurut  perspektif ini, media menampilkan kapitalisme dan skema patriarki yang dianggap sebagai sistem yang paling menarik. Kontrol sosial secara langsung menjadi tidak perlu karena ideologi dominan telah diterjemahkan menjadi “sesuatu yang wajar atau dapat diterima secara umum”, (Sunarto: 74).

1 komentar:

Posting Komentar