Konsep Berita

Pengertian Berita

Berita disebut juga NEWS yakni informasi yang bisa datang dari empat penjuru (N)ort-(E)ast-(W)est-(S)outh, dalam artian informasi yang datang dari mana saja, baik utara, timur, barat, atau selatan. Ada pula yang memandang news merupakan bentuk plural dari new (baru), karena itu berita harus selalu terkait dengan hal-hal atau kejadian yang baru dianggap menarik.

Sebuah ungkapan yang dilontarkan Charles Anderson Dana (1982) mengatakan, jika anjing menggigit orang, itu bukan berita, tapi jika orang yang menggigit anjing, itu baru berita.

Kata “Berita” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, vrit (artinya ada atau terjadi) atau vritta (artinya kejadian atau peristiwa). Sedangkan kamus besar bahasa Indonesia menyebutkan, berita adalah “laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat”.

Sumber berita adalah fakta dan data sebuah peristiwa, meliputi apa yang kemudian menjadi rumus berita, 5W+IH: What (apa yang terjadi), Where (dimana hal itu terjadi), When (kapan peristiwa itu terjadi), Who (siapa yang terlibat dalam kejadian itu), Why (kenapa hal itu terjadi), dan How (bagaimana peristiwa itu terjadi).

George Fox Mott dalam New Survey of Jurnalism (1958 dalam Sumadiria, 2006: 71-79) mengemukakan delapan konsep berita yang harus diperhatikan oleh praktisi dan pengamat media massa, antara lain:

  1. Berita sebagai laporan tercepat. Berita sebagai laporan tercepat menitikberatkan pada segi berita yang baru terjadi sebagai faktor terpenting dalam sebuah berita.
  2. Berita sebagai rekaman. Berita merupakan sebuah dokumentasi yang dapat disajikan dalam berita dengan menyisipkan rekaman suara narasumber dan peristiwa atau penyiaran proses peristiwa melalui reportase maupun secara langsung sebagai rekaman gambar, sehingga dapat menjadi catatan penting atau bersejarah.
  3. Berita sebagai fakta objektif. Beritakan merupakan laporan tentang fakta yang apa adanya. Sebagai fakta, berita merekonstruksi peristiwa melalui prosedur jurnalistik. Berita itu harus faktual dan objektif. Berita yang objektif merupakan berita atau laporan mengenai suatu fakta yang diamati tanpa menimbulkan makna bias dan laporan harus jujur.
  4. Berita sebagai interpretasi. Berita merupakan laporan yang memuat fakta yang perlu diberi penjelasan mengenai sebab akibatnya, latar belakangnya, akibatnya, situasinya, dan hubungannya dengan yang lainnya.
  5. Berita sebagai sensasi. Berita sebagai sensasi merupakan pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verba, simbolis, atau konseptual dan berhubungan dengan kegiatan alat indra.
  6. Berita sebagai minat insani. Berita yang disajikan bukan hanya suatu peristiwa penting saja, tetapi harus menimbulkan perasaan iba, terharu, perihatin, sehingga dapat menggalang, membangkitkan atensi dan motivasi pembaca untuk tetap bersatu, bersaudara, saling berkomunikasi serta saling mencintai.
  7. Berita sebagai ramalan. Berita sesungguhnya tidak hanya sekadar melaporkan suatu peristiwa atau keadaan yang kasat mata saja, tetapi harus mampu mengisyaratkan dampak dari peristiwa atau keadaan tersebut. Sebuah berita harus mampu memberikan interpretasi, prediksi, dan konklusi.
  8. Berita sebagai gambar. Dalam dunia jurnalistik dikelal aksimo: satu gambar seribu kata. Jadi, betapa dahsyatnya efek gambar dibandingkan dengan kata-kata. Fungsi foto atau gambar dalam jurnalistik adalah untuk menginformasikan meyakinkan dan menghibur khalayak pembaca.

Nilai Berita


Kriteria umum nilai berita (news value) merupakan acuan yang dapat digunakan jurnalis, yakni para reporter dan editor, untuk memutuskan fakta yang pantas dijadikan berita dan memilih mana yang lebih baik.

Kriteria nilai berita, juga sangat penting bagi para editor dalam mempertimbangkan dan memutuskan, mana berita terpenting dan terbaik untuk dimuat, disiarkan, atau ditayangkan melalui medianya kepada masyarakat luas.

Kriteria umum nilai berita diantaranya adalah sebagai berikut:    
  1. Aktual, artinya peristiwa terbaru, terkini, atau hangat (up to date), sedang atau baru saja terjadi (recent events).
  2. Faktual, yakni ada faktanya (fact), benar-benar terjadi, bukan fiksi (rekaan, khayalan, atau karangan). Fakta muncul dari sebuah kejadian nyata (real event), pendapat (opinion), dan pernyataan (statement). Fakta sendiri terdiri dari data yang teruraikan dalam unsur 5W+IH. Jika tidak ada fakta, bukanlah kejadian nyata melainkan fiksi.
  3. Penting, yakni besar-kecilnya ketokohan orang yang terlibat peristiwa (prominence). Peristiwa yang melibatkan orang penting selalu menarik perhatian orang. Tokoh, pejabat, politisi, artis, atau sosok ternama lainnya dalam dunia jurnalistik disebut “pembuat berita” (news maker).
  4. Menarik, artinya memunculkan rasa ingin tahu (curiousty) dan minta membaca (interesting). Peristiwa yang biasanya menarik perhatian pembaca antara lain menghibur, mengandung keganjilan, memiliki unsur kedekatan (proximity), atau peristiwa yang dekat baik secara geografis maupun emosional, mengandung human interest, mengandung unsur seks, dan konflik.

Proses Produksi Berita

Tahap awal dari produksi berita adalah bagaimana wartawan mempersepsi / fakta yang akan diliput kenapa suatu peristiwa disebut sebagai berita sementara yang lain tidak. Berita adalah hasil akhir dari proses kompleks dengan menyortir (memilah-milah) dan menentukan peristiwa dan tema-tema tertentu (Eriyanto, 2006 : 102).
   
Beberapa hal yang menjadi bagian proses produksi berita diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Rutinitas Organisasi. Semua proses seleksi dan sortir berita terjadi dalam rutinitas kerja keredaksionalan. Setiap hari institusi media secara teratur memproduksi berita, dan proses seleksi itu adalah bagian dari ritme dan keteraturan kerja yang dijalankan setiap hari.
  2. Nilai Berita. Organisasi media tidak hanya mempunyai struktur dan pola kerja, tetapi juga mempunyai ideologi professional, seperti kerja professional lain. Wartawan dan orang yang kerja didalamnya mempunyai batasan professional untuk menilai kualitas pekerjaan mereka.
  3. Kategori Berita. Proses kerja dan produksi berita adalah sebuah konstruksi. Berita sebagai sebuah konstruksi yaitu, ia menganggap mana yang lebih penting dan mana yang  tidak penting. Media dan wartawanlah yang mengkonstruksikan sedemikian rupa sehingga peristiwa itu penting.
  4. Ideologi Profesional/Objektivitas. Standar profesional berhubungan dengan jaminan yang ditekankan kepada khalayak bahwa apa yang disampaikan adalah suatu yang benar atau kebenaran. Menurut Shomeker dan Reese, objektivitas lebih merupakan ideologi bagi jurnalis yang disediakan jurnalis, maksudnya adalah objektivitas dan ideologi datang bersamaan dengan datangnya sirkulasi dan kapitalisme dalam industri percetakan dan media.

3 komentar:

Posting Komentar